Percaya Diri Melalui Meditasi Lilin
Jakarta, Kompas
Pernahkah Anda tiba-tiba merasa kelu ketika berhadapan dengan seseorang? Atau apakah Anda berani menatap mata lawan bicara Anda dan mampu berkomunikasi dengan baik dengan lawan bicara Anda, siapa pun dia?
Kurang percaya diri menyampaikan pikiran dan sulit berkomunikasi dengan lawan bicara dialami setiap orang. Ada yang terus-menerus tidak percaya diri, ada pula yang rasa kurang percaya dirinya muncul pada kondisi tertentu saja.
Ada banyak cara ditawarkan untuk mengatasi masalah itu, tetapi Prof dr Luh Ketut Suryani menawarkan cara menggunakan meditasi lilin. Meditasi, menurut ahli kejiwaan Prof dr Suryani, adalah proses memfokuskan pikiran yang dilakukan dalam keadaan sadar untuk memusatkan perhatian pada satu perhatian. Dalam meditasi, pikiran tidak boleh kosong.
Dengan melakukan meditasi diharapkan akan terjadi keseimbangan (homeostatis) di dalam diri. Bila situasi keseimbangan—keadaan meditasi, trance—sudah tercapai, maka pada saat itu kita dapat menyelesaikan masalah fisik atau mental kita sendiri.
Pada meditasi lilin, ujar Prof Suryani, Senin (24/4) pagi di Tea Addict, Jakarta Selatan, nyala lilin digunakan untuk membantu memfokuskan pikiran. Pada meditasi lilin—teknik meditasi yang ditemukan Prof Suryani—yang dilatih sebenarnya adalah energi spiritual yang disalurkan melalui mata.
Mata merupakan pintu hati seseorang. Melalui matanya, dapat terbaca siapa orang itu, apakah mengalami beban fisik dan mental, mengalami masa lalu yang suram yang memengaruhi pola pikir, perasaan, dan pikiran lainnya. Melalui mata seseorang pula dapat diketahui maksud orang itu, apakah dapat dipercaya atau tidak.
Melalui mata pula, menurut Prof Suryani, kita dapat menjaga diri sendiri agar tidak mudah dipengaruhi orang lain. Melalui mata pula, karisma diri dapat muncul sebab mata dapat memunculkan kepercayaan diri, keteguhan, dan semangat juang. Dan, semua yang kita lakukan terjadi otomatis, tanpa direncanakan, dan tampak tidak dibuat- buat, seperti datang dari diri yang lebih dalam.
Berlatih bertahap
* Prof Suryani menciptakan meditasi lilin berdasarkan pengalamannya saat dia pada usia 14 tahun belajar meditasi untuk menyembuhkan orang lain.
Suryani menggunakan mata dengan tidak berkedip untuk dapat menyalurkan energi Sang Pencipta kepada orang yang ditolong.
Meditasi ini mudah dilakukan siapa saja, dan alat bantunya hanya lilin. Meditasi dilakukan di dalam ruang yang redup, tetapi bukan gelap, dan bila dapat di ruang yang kosong agar pikiran pada nyala lilin tidak terganggu. Ruang dipilih yang tidak terganggu oleh angin sehingga nyala lilin alamiah.
Lilin disarankan tidak berwarna putih agar tidak mengganggu fokus, yang tidak berbau, dan yang tidak mudah meleleh. Prof Suryani menggunakan lilin berwarna merah. Bila aroma dirasa dapat membantu memusatkan pikiran, dapat menggunakan lilin beraroma lembut, seperti aroma kayu cendana, melati, cempaka, kenanga, atau kamboja.
Ketika kami berlatih bersama Prof Suryani, kami duduk di atas kursi secara melingkar dan lilin diletakkan di atas meja setinggi mata di tengah-tengah lingkaran. Jarak antara lilin dan mata adalah dua meter. Tetapi, di dalam bukunya yang baru diterbitkan, Meditasi Lilin Memasuki Pintu Hati (Yayasan Obor Indonesia), Prof Suryani menganjurkan duduk bersila di lantai.
Perlahan-lahan kami diarahkan untuk menatap nyala lilin tanpa berkedip. Keluhan pedih pada mata adalah hal biasa, dan Prof Suryani menyarankan untuk tidak memaksakan diri, tahap pertama dapat dimulai dari menatap selama tidak lebih dari satu menit. Bila mata terasa pedih, perlahan-lahan mata ditutup dan otot-ototnya dibuat santai. Setelah itu, perlahan-lahan mata dibuka kembali dan latihan dapat diulang.
Dalam menatap nyala lilin, yang terpenting dan berulang kali ditekankan Prof Suryani adalah untuk tidak melihat lilin dengan mata, tetapi menggunakan rasa. Hal ini untuk menghindari efek seperti mata pedih dan bahkan perut mual yang akan menghambat tercapainya suasana meditasi.
Dalam memusatkan pikiran tidak berarti pikiran kosong. Menurut Prof Suryani justru pikiran tidak boleh dibiarkan kosong, tetapi harus aktif. Hanya pusat perhatian bukan pada pikiran yang bermacam-macam, tetapi pada satu hal saja, dalam hal ini nyala lilin.
Tidak ada target waktu
* Melatih meditasi ini sebaiknya teratur dari hari ke hari, tetapi tanpa memaksakan diri. Karena itu, tidak ada target waktu kapan seseorang dapat melihat nyala lilin tanpa berkedip selama 10-15 menit.
Bila tahap ini telah tercapai, maka latihan dapat dilakukan tanpa menggunakan lilin.
Suryani menjelaskan beberapa kegunaan meditasi ini, antara lain mengetahui pikiran dari lawan bicara. Dengan rileks dan memusatkan pikiran, kita dapat membuat lawan bicara menceritakan apa yang ada di pikirannya.
“Untuk saya yang banyak membantu orang, hal ini sangat menolong sebab pasien akan dengan mudah menceritakan apa yang dia rasakan, bahkan tanpa saya tanya,” tutur Suryani.
Meditasi lilin juga membantu saat melakukan pembicaraan bisnis sebab kita dapat merasakan apa yang disukai atau tidak disukai mitra bisnis. Meditasi ini juga dapat membantu memunculkan kapasitas diri sebab orang yang melatih meditasi ini menjadi lebih percaya diri dalam mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya dan berani menatap mata lawan bicara.
Sedangkan untuk membantu penyembuhan, misalnya dari narkoba, menurut Suryani, tetap harus dicari penyebabnya dan diobati menurut pengobatan yang diperlukan. Meditasi lilin akan banyak membantu untuk membangkitkan percaya diri sehingga yang bersangkutan berani menolak ajakan atau godaan untuk menggunakan narkoba lagi.
Berawal dari Penelitian
* Ide menggunakan lilin adalah untuk mengukur bahwa meditasi dapat menghasilkan energi yang dapat dipindahkan. Energi yang kita keluarkan dapat kita kontrol yang tampak dari nyala lilin yang tetap tegak.
Prof Suryani menciptakan meditasi lilin ketika Prof Hoyt Edge dari Rollins College, Florida, Amerika Serikat, atas saran Prof Bob Morris dari Edinburgh University, ingin bersama-sama bahwa tubuh dapat memindahkan energi melalui cara meditasi. Prof Hoyt meminta Prof Suryani untuk tidak menggunakan metode meditasi yang biasa diajarkan Suryani pada masyarakat.
Dalam bermeditasi, pikiran tidak boleh kosong. Pikiran harus tetap aktif, tetapi fokus pada satu hal. Dalam latihan fokus adalah pada nyala lilin. Dengan pikiran yang tetap aktif tetapi terfokus, seseorang yang sedang bermeditasi dapat mendengar suara hujan yang jatuh, suara langkah kaki, suara pintu ditutup, dan lain-lain, tetapi tidak menaruh perhatian pada suara-suara aktivitas di luar dirinya itu.
Orang yang memusatkan pikiran pada nyala lilin akan terjadi proses dalam dirinya. Kita dapat merasakan aliran energi panas, dingin, atau rasa lain yang kemudian menyatu dengan energi dari luar dirinya yang menimbulkan perubahan perasaan mengenai dirinya. Ada yang merasakan badannya menjadi lebih ringan, ada yang merasakan tubuhnya jadi lebih kecil, bahkan ada yang merasa menjadi sebesar semut, ada yang merasa lebih besar, ada yang merasa sendirian tanpa kesepian meskipun bermeditasi bersama- sama, ada yang merasa tidak seperti duduk di lantai.
Semua perasaan itu adalah proses mencapai tingkat kesadaran lebih tinggi, yakni kesadaran meditasi, atau hening, atau trance, atau kesadaran berubah.
Jika keadaan meditasi telah tercapai, menurut Prof Suryani, melalui nyala lilin kita dapat memengaruhi orang lain. Dalam praktik sehari-hari, energi tenang yang kita miliki itu akan dapat memengaruhi orang lain sehingga orang yang melihat kita akan merasa nyaman. Kemampuan komunikasi dapat dimunculkan yang memungkinkan kita mudah bergaul, mudah diterima orang lain. Kondisi ini tercapai karena komunikasi spirit dengan spirit sudah terjadi sebelum pertemuan fisik terjadi. (Ninuk Mardiana Pambudy)